Asyiknya Mudik Lebaran ke Kampung Halaman

Asyiknya Mudik Lebaran

Alhamdulillah, senang rasanya setiap kali kembali tiba di kampung halaman, kumpul bareng keluarga dan teman, mengenang masa kecil kembali di Hari Raya Idul Fitri. Tak peduli punya banyak uang atau tidak, tak peduli berdesakan dan macet di perjalanan, susah atau senang, yang penting bisa berlebaran di kampung halaman.

Alhamdulilah, lebaran tahun ini saya bisa kembali mudik dari Jakarta ke Ngawi – Ponorogo Jawa Timur naik kereta api (tut tut tut siapa mau ikut). Tahun ini saya ikut Program Mudik Motor Gratis dari Dinas Perhubungan, dan saya naik Kereta Api Brantas seharga 84.000,- perorang dari Stasiun Pasar Senen ke Stasiun Paron.

Walaupun terasa agak ribet di awal pendaftaran dan pemberangkatan, tapi terasa lebih nyaman di perjalanan dan di kampung halaman. Kenapa ribet? Karena harus mendaftar dan verifikasi berkas Program Mudik Motor Gratis, kendaraannya juga harus dikirim lebih awal dari orangnya.

Tapi demi kenyamanan dalam perjalanan dan di kampung halaman, saya kira lebih baik daripada mudik dengan mengendarai motor yang jarak tempuhnya hingga 700 kilometer. Karena saya sudah merasakan betul mudik dengan sepeda motor, rasanya, sangat melelahkan.

Karena keterlambatan informasi mudik motor gratis dan tidak dapat tiket kereta api tahun lalu, lebaran Idul Fitri 1438 Hijriah / 2018 Masehi, saya mudiknya naik motor dari Jakarta sekitar pukul 23.00 malam hari sampai di Ngawi sekitar pukul 17.00 sore harinya.

Karena keinginan yang besar untuk pulang kampung halaman, walaupun nggak dapet tiket kereta api, saya usahakan untuk tetap pulang. Sebenarnya banyak pilihan kendaraan umum baik yang gratis maupun berbayar, seperti bis misalnya, tapi karena saya kurang suka, ya saya naik sepeda motor.

Mudik naik sepeda motor juga asyik dan menyenangkan, nggak usah dibayangkan bagaimana capeknya, dijalani dan dinikmati saja. Kalau capek ya istirahat, dibawa santai nggak usah buru-buru, lama-lama juga sampai di tujuan. Alhamdulillah, saya sudah mudik naik sepeda motor sebanyak enam kali, empat kali naik motor Honda Grand dan dua kali naik motor Yamaha Vixion.

Asyiknya Mudik Lebaran – Cerita Masa Kecil

Kalau sudah ngumpul bareng keluarga, bapak/ibu, kakak/adik, saudara/saudari dan juga teman, banyak hal yang patut dikenang dan diceritakan. Cerita mancing bareng, cerita nyari rumput bareng, cerita main bola bareng, cerita nonton bareng (nonton apa coba? Ada dehhhh, hehehe 🙂 )

Nyritakne (menceritakan) mbiyen cilikane nuakale podo poll, aku yo ngono kuwi. Nanging ora poll banget, mung rodok nakal mawon, hehehe. Nek sampean pripun? Nakale yo podo poll tho?

Ingat waktu kecil tidur di emperan Masjid bareng-bareng, berangkatnya menjelang shalat Maghrib, abis Shalat Maghrib ngaji bareng sampai waktu Isya, trus Shalat Isya dilanjut tidur sampai waktu Subuh. Habis itu Subuhan trus pulang atau tiduran lagi sampai matahari terbit baru pulang.

Nah, senengnya lagi kalao udah hari terakhir puasa, sorenya ambengan, buka puasa bareng di mushalla. Abis shalat Id makan ambengan lagi, bareng-bareng rebutan ayam (kalau ada) siapa cepat ya dapat, hehehehe. Abis itu Badhan (berlebaran ke rumah sanak saudara dan tetangga), kenal nggak kenal ya Badhan, salam-salaman saling memaafkan.

Seperti hanya anak-anak jaman sekarang, anak-anak jaman dulu juga sangat senang kalau lebaran. Apalagi yang diharapkan kalau bukan makanan enak dan uang saku buat jajan. Nggak ada yang nggak enak di hari lebaran, semuanya enak, semuanya senang. Banyak makanan dihidangkan, banyak kue disajikan juga banyak orang yang dermawan.

Selesai Badhan tinggal menghitung uang saku lebaran, banyak atau sedikit tetap disyukuri, tidak lupa berterima kasih pada para dermawan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

five × three =