Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Subhanallah, sampai siang hari ini, Senin tanggal 18 Juni 2018 saya masih ikut menunggu kelahiran anak pertama Dewi Sumiarsih, adik paling kecil dari istri saya, Harmini. Saya hanya bisa berdoa semoga proses kelahirannya normal dan lancar, sehat serta selamat.

Tanda-tanda mulai kelahirannya itu sebenarnya sudah mulai sekitar pukul 16.30 sore kemarin, yakni bolak-balik ke kamar kecil untuk buang air kecil, padahal menurut bidan itu adalah air ketuban yang sudah pecah. Karena tidak tahu dikiranya hanya buang air kecil biasa.

Barulah selepas Shalat Isya, Asih, panggilan akrab calon ibu bayi, diantar ke Bidan untuk diperiksa kehamilan dan kesiapan melahirkan. Sampai di Bidan sekira pukul 20.00 langsung ditangani, namun sampai dinihari belum ada tanda-tanda segera melahirkan. Kurang lebih pukul 04.00 diberikan perangsang untuk melahirkan, namun ditunggu sampai sekitar pukul 07.30 baru ada bukaan satu.

Padahal menurut Bidan, dalam waktu maksimal 24 jam sejak air ketuban pecah maka bayi diharapkan sudah lahir. Jika belum lahir dikhawatirkan akan ada infeksi. Selanjutnya dalam proses reaksi obat yang agak lambat, maka disarankan dan dirujuk ke Rumah Sakit Muslimat Ponorogo. Saya pun ikut mengantar dan sampai di Rumah Sakit Muslimat Ponorogo sekitar pukul 12.15 setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari Badegan.

Sesampainya di Rumah Sakit langsung ditangani di Ruang Instalasi Kamar Bersalin. Sampai pukul 15.30 sore hari ini masih dalam proses persalinan. Subhanallah, berat sekali rasanya melihat calon ibu yang akan melahirkan anaknya, butuh perjuangan dan kesabaran. Saya hanya bisa melihat dan mendoakan semoga diberikan kesehatan dan keselamatan, sehat dan selamat ibu serta bayinya.

Subhanallah, senang sekali melihat bayi-bayi yang baru saja dilahirkan, melihat senyum manisnya dan mendengar suara tangisnya. Senang sekali melihat kebahagiaan ayah bunda yang baru saja mendapat momongan, terlihat jelas dari raut wajahnya yang penuh kasih sayang menggendongnya.

Bergetar juga hati ini melihat calon ayah/ibu, kakek/nenek yang menunggu kehadiran buah hati dengan rasa was was dan penuh harap. Karena sudah sedari pagi belum juga ada tanda-tanda kelahiran cucunya. Entahlah, air mata ini juga ingin mengalir melihat calon ayah yang menunggu hadirnya sang buah hati, dengan penuh harap semoga ibu dan anak sehat dan selamat, aamiin.

Maka, Kasih Ibu Sepanjang Jalan, mengingat lamanya masa bayi dalam kandungan ibunya yang mencapai kurang lebih sembilan bulan sepuluh hari, dan beratnya perjungan seorang ibu dalam proses melahirkan antara hidup dan mati. Sudah pasti seorang ibu akan mencintai bayinya lebih dari apapun. Setelah disayang dalam kandungan, pun disayang dalam gendongan kurang lebih dua tahun lamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − five =