Berhati-hatilah Terhadap Pujian

Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah SWT, tiada daya dan upaya melainkan atas kehendakNya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Agung Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada sahabat-sahabatnya, semoga Allah sampaikan pula kepada seluruh umatnya, aamiin ya rabbal’alamiin.

Alhamdulillah, saya tadi malem, Kamis malam Jum’at ba’da maghrib sampai ba’da shalat Isya, ikut acara rutin mingguan di Masjid Al-Mukarromah Kelurahan Lagoa, Kecamatan Koja Jakarta Utara, berupa pembacaan surat Yasin, Tahlil, Shalawatan, dilanjutkan dengan taklim ilmu agama Islam.

Pada kesempatan itu disampaikan oleh ustadz kita, bahwa kita harus berhati-hati dalam memuji orang, jangan sampai pujian kita itu justru mengundang murkanya Allah SWT kepada orang yang memuji dan / atau kepada orang yang dipuji. Bagi orang yang imannya sudah kuat, justru ia akan menjadi malu jika ia dipuji oleh manusia. Lebih baik baginya dibully daripada dipuji.

Kenapa orang yang shaleh dan kuat imannya tidak suka dipuji? Karena ia sadar bahwa pujian itu adalah milik Allah, adalah keagungan Allah. Ia yakin bahwa, misalnya ia bersedekah itu, adalah rizki dari Allah, Allah yang menggerakkan hatinya untuk bersedekah, Allah juga yang memampukan untuk bersedekah. Kalau Allah tidak menghendaki, maka seseorang itu tidak akan mau dan tidak pula mampu bersedekah, walaupun ia memiliki harta berlimpah.

Disampaikan pula bahwa puji-pujian itu dibagi menjadi empat macam, yaitu pujian Allah kepada keagungan Allah itu sendiri, pujian Allah kepada hambanya yang mulia, pujian seorang hamba kepada Allah dan pujian kepada sesama manusia.

Berhati-hatilah terhadap pujian seseorang, karena kalau kita salah menafsirkan, justru pujian itu akan membuat kita lalai, menjadi manusia yang sombong, manusia yang tidak mau bersyukur. Cukuplah rasa malu kalau kita dipuji, jangan sampai dimasukkan kedalam hati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × four =