Idul Adha, Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, Ismail dan Habil

Alhamdulillah, hari Minggu tanggal 11 Agustus 2019, kita sama-sama telah melaksanakan Shalat Idul Adha 1440 H. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah kita semua, dan, semoga kita juga dapat meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, ibunda Siti Hajar dan Habil AS.

Nabi Ibrahim AS yang mendapat kehormatan Kholilullah, kekasih Allah, karena ketaatannya kepada Allah SWT, membuat para malaikat bertanya-tanya dan sanksi akan ketaatannya Nabi Ibrahim AS.

Kita ketahui bahwa Nabi Ibrahim AS memiliki ribuan hewan ternak dan selalu berkurban sebagai wujud syukur dan taatnya beliau kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim juga memiliki dua orang istri yang cantik dan seorang anak yang rupawan, yakni Ismail.

Sebelum Nabi Ibrahim AS memiliki anak, ia pernah berkata bahwa jika Allah meminta untuk mengorbankan anaknya untuk dijadikan qurban, maka Ia akan laksanakan. Dan perkataannya itu didengar oleh malaikat. Ujian berat itu pun datang.

Pada satu malam, Nabi Ibrahim AS bermimpi dan mendapat perintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya, Ismail, sebagai qurban. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Nabi Ibrahim tidak serta merta langsung melaksanakan perintah itu, Ia renungi terlebih dulu mimpi itu, Ia juga tanyakan pada istrinya, Siti Hajar dan juga pada anaknya, Ismail AS. Jika memang itu adalah perintah Allah SWT, maka istri dan anaknya itu setuju. Laksanakanlah wahai Ibrahim AS.

Terbuat dari apa hatinya Ibunda Siti Hajar yang dengan tulus dan ikhlas menyerahkan anak kesayangannya Ismail AS yang masih belia dan rupawan untuk disembelih oleh ayah kandungnya sebagai Qurban?

Dulu setelah melahirkan Ismail juga ditinggalkan Nabi Ibrahim AS di padang pasir yang yang tandus atas perintah Allah. Tidak ada orang yang mendampingi, tidak ada awan yang menaungi, juga tidak ada air untuk perbekalan.

Saat Ismail menangis karena kehausan, naluri seorang ibu yang begitu penuh kasih dan sayang, mencari air, berlari kecil dari bukit Safa ke Marwah, namun tidak ditemukan. Kembali ia lari dari bukit Marwah ke Safa, namun tidak Ia temukan juga.

Ibunda Siti Hajar berlari antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, kurang lebih tujuh kilometer. Berharap untuk mendapatkan air untuk anak tersayangnya, Ismail AS. Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar. Allah melihat begitu sayangnya Siti Hajar kepada anaknya Ismail, melihat juga kelelahan yang dialami ibunda Siti Hajar.

Atas kebesaranNya, Allah pancarkan sumber air di bawah hentakan kaki Ismail, dan sampai saat ini sumber air itu terus memancar dan tiada habis-habisnya walaupun diminum oleh jutaan manusia bahkan diambil berjuta-juta liter banyaknya. Itulah Air Zam Zam, Air Kasih Sayang Ibunda Siti Hajar kepada Ismail, anugerah dari Allah SWT atas kesucian cinta ibunda Siti Hajar kepada anaknya Ismail.

Ismail adalah anak pertama Nabi Ibrahim AS. Seorang anak laki-laki yang sholeh, rupawan menawan hati. Seorang anak yang kelahirannya sangat dinantikan puluhan tahun setelah Nabi Ibrahim menikah. Saat usianya masih belia, saat mata sejuk memandang, justru ia harus dikorbankan.

Ismail kecil tidak lari, tidak melawan ayahnya, tidak memarahi orang tuanya, juga tidak menolaknya. Karena baktinya kepada orang tua, ia rela dijadikan Qurban oleh ayahnya.

Ketulusan dan kesabaran Nabi Ismail dapat dirasakan dari jawabannya atas pertanyaan ayahnya, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Hingga tiba saatnya waktu dan tempat penyembelihan itu dilaksanakan, Allah melihat ketaatan pengorbanan Ibrahim AS dan kesabaran anaknya, Ismail AS. Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor kambing yang sangat bagus. Itu adalah Kambingnya Habil, qurban yang diterima Allah SWT.

Ya, dulu Allah juga menyuruh Habil dam Qabil untuk berkurban. Allah menerima keikhlasan Habil yang berqurban dengan seekor kambing muda yang sangat bagus, dan tidak menerima qurban Qabil karena dipilihkan dari yang kurang bagus.

Alhamdulillah, sampai juga kita di penghujung tulisan ini. Allah tidak meminta kita mengorbankan anak atau keturunan kita sebagai qurban, karena Allah tahu kerapuhan iman kita, Allah hanya meminta 2,5 persen dari harta kita.

Semoga Allah kuatkan dan Allah mampukan kita untuk berqurban, sebagai salah satu bentuk syukur dan ketaatan kita kepada Allah SWT, aamiin ya rabbal’alamiin.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1140 H. Mas Misran, 12 Agustus 2019.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

three × 5 =