Etika Bertamu dan Cara Memuliakan Tamu

Alhamdulillah, malam ini kembali mengikuti taklim rutin setiap Kamis malam Jum’at di Masjid Jami Al Mukarromah Kelurahan Lagoa Koja Jakarta Utara dengan materi Etika Bertamu dan Memuliakan Tamu.

Dikisahkan dalam Al-Qur’an bahwa pada suatu saat Nabi Ibrahim AS kedatangan tamu orang yang belum dikenalnya. Namun Nabi Ibrahim AS tetap menyambut tamunya dengan baik tanpa banyak bertanya maksud dan keperluannya apa.

Setelah Nabi Ibrahim AS mempersilahkan tamunya masuk, Ia pergi ke belakang untuk menemui istrinya, menanyakan kepada istrinya, makanan apa yang bisa dihidangkan untuk menjamu tamunya. Kemudian Nabi Ibrahim AS menjamu tamunya dengan hidangan daging sapi muda yang dipanggang.

Dari kisah diatas kita bisa mengambil pelajaran bahwa Nabi Ibrahim AS, juga para Nabi dan orang-orang sholeh, sangatlah memuliakan tamu. Ia menemui istrinya di belakang untuk menanyakan apakah ada makanan atau minuman untuk menjamu tamunya, supaya tamunya tidak tahu obrolan tuan rumah tentang kondisi.

Dalam suatu hadits Rasulallah SAW bersabda, barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah tamunya. Ada rahasia apa sebenarnya sehingga kita disuruh untuk memuliakan tamu yang datang ke rumah kita? Ternyata ada dua rahasia besar sehingga Rasulallah SAW menyuruh kita memuliakan tamu, yaitu tentang rizki dan penghapusan dosa.

Kewajiban kita dalam menjamu tamu paling lama adalah selama tiga hari, dan pada hari pertama diutamakan menjamu tamu dengan lebih spesial, maksudnya, kalau sehari-hari kita makan tahu tempe, makan untuk tamu kita lebihkan dengan tambahan telur misalnya. Pada hari kedua dan ketiga boleh seperti menu harian kita. Selebihnya pada hari keempat atau selebihnya, tidak ada kewajiban untuk menjamu tamu.

Setiap tamu yang datang ke rumah kita sesungguhnya membaw rizki, baik itu rizki yang terlihat dan langsung dapat kita rasakan, atau rizki dalam bentuk lain yang tidak terlihat seperti kesehatan, ilmu yang bermanfaat dan lainnya. Selain membawa rizki, setiap tamu yang pulang akan membawa/mengeluarkan dosa tuan rumah (maksudnya, mengurangi dosa tuan rumah tanpa menambah dosa baginya).

Lalu bagaimana etika kita dalam bertamu? Kalau kita bertamu jangan lupa untuk mengucapkan salam atau mengetuk pintu. Jika sampai tiga kali mengucapkan salam atau mengetuk pintu tetapi tuan rumah tidak menjawab salam atau tidak keluar, maka kita harus pulang, tidak usah diteruskan. Mungkin tuan rumah sedang sibuk, ada urusan yang penting atau lainnya.

Sebagai tamu kita juga harus tahu diri, tidak boleh mentang-mentang disambut dengan jamuan mewah kita seenaknya saja. Kita juga harus tahu bagaimana kondisi tuan rumah yang kita kunjungi. Menyimpan rapat-rapat hak (kekurangan) tuan rumah tanpa menceritakan kepada orang lain. Dalam bertamu juga tidak boleh pada waktu-waktu orang makan, karena akan merepotkan tuan rumah.

Demikian, sedikit hasil taklim rutin Kamis malam Jum’at ini, semoga bermanfaat untuk kita semua, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 4 =